Lukisan realis seorang pria Betawi berbaju merah berbicara hangat di bawah saung kayu di kampung tropis

Jam Blok S dan Waktu yang Jalan Pelan

Jam tua itu udah ada sebelum warung kopi pertama dibuka di Blok S. Waktu belum ada warkop kekinian, belum ada cafe anak Jaksel, belum ada juga motor listrik sunyi yang sliweran tiap pagi, jam itu udah berdiri kayak penjaga kampung yang nggak pernah tidur.

Bentuknya bulat gede, mirip jam dinding sekolah zaman 90-an, tapi dipasang di tiang besi tinggi deket parkiran. Jarumnya suka telat lima menit, kadang lebih. Tapi justru karena itu, warga sekitar percaya waktu di Blok S punya jalannya sendiri. Kaya nggak perlu sama kayak di luar sana.

“Abis azan subuh tuh jam baru gerak,” kata Bang Acil, tukang parkir yang udah dari 2003 jaga di situ. “Kayak nunggu disuruh dulu sama Tuhan.”

Ada cerita beredar kalo jam itu dulunya disumbangin sama pemilik bengkel mobil yang udah almarhum. Katanya dia dulu sering ngatur balap liar malam Jumat, terus tobat, terus naro jam itu biar anak-anak kampung inget waktu. Biar nggak kebut-kebutan lagi.

“Jam itu saksi bisu, bang. Pernah dulu temen gue tabrakan jam dua pagi, tepat di bawah tiang itu,” ujar Ujang, penjual rokok keliling yang juga suka nongkrong malem-malem di bangku semen deket jam.

Lambat laun, jam itu jadi patokan. Tukang sayur naruh gerobak pas jarum pendek nunjuk angka lima. Petugas kebersihan mulai nyapu trotoar pas jarum panjang hampir nyentuh angka dua belas. Dan warung soto Bang Benz baru buka tenda pas jam nunjuk angka enam lebih lima.

Iya, warung Bang Benz yang itu. Yang sotonya suka dibilang bikin orang pulang kampung cuma karena kangen kuah santan dan paru gorengnya. Letaknya cuma sepuluh langkah dari jam. Bahkan, Mamuk—istri almarhum Bang Benz—suka bilang kalo jam itu yang ngasih tanda kapan dia harus siapin tungku.

“Kalo jamnya belum gerak, air belum bisa mateng,” kata dia sambil ketawa waktu ditanya kenapa selalu buka lebih lambat dari warung lain.

Ada semacam keharmonisan aneh antara jam itu sama irama hidup di Pujasera Blok S. Seakan-akan, semua yang dagang di sana tahu waktunya masing-masing, tanpa perlu alarm HP atau jadwal digital.

Anak-anak yang jajan pagi, ibu-ibu yang belanja sambil bawa rantang, abang-abang ojek yang nunggu orderan sambil ngopi, sampe bapak-bapak pensiunan yang cuma duduk ngelamun, semua geraknya selaras sama waktu versi jam Blok S.

“Lu tau nggak, kadang gue sengaja dateng telat ke kantor cuma biar bisa ngopi dulu liat jam itu muter,” celetuk Dini, pegawai kantor pajak yang gedungnya dua blok dari situ. “Rasanya kayak… dunia belum mulai sebelum jarumnya lewat angka tujuh.”

Jam itu bukan sekadar alat penunjuk waktu. Dia udah kayak jantung kecil kampung yang berdetak pelan tapi pasti. Kadang dibersihin sama warga. Kadang dibiarin berdebu sampe ada anak SMA yang iseng naik ke tiang cuma buat ngelap kacanya. Pernah juga ditutup banner kampanye caleg pas pemilu, tapi warga rame-rame protes.

“Jangan tutup jam, dong. Itu kayak matahari kecil kita,” begitu tulisan spanduk yang digantungin Mpok Nani waktu itu.

Di balik semua cerita dan keanehannya, jam itu ngingetin kita bahwa waktu bukan cuma soal detik yang berlalu, tapi juga soal rasa. Rasa kebersamaan, rasa nunggu giliran, rasa pagi yang nggak buru-buru.

Dan mungkin, itu sebabnya kenapa di Blok S, pagi nggak pernah kerasa lengkap tanpa liat jarum jam itu muter pelan. Tanpa suara sendok ketemu mangkok dari warung Bang Benz. Tanpa sapa pelan dari Bang Acil yang nyuruh parkir agak minggir. Atau tanpa suara tiupan pelan Ujang yang ngasih api ke rokok pembeli pertama.

Semuanya sederhana. Tapi justru di kesederhanaan itu, ada denyut kota yang nggak ditemukan di gedung tinggi atau lampu merah perempatan besar. Ada cerita. Ada irama. Ada jam tua yang jadi penjaga waktu orang-orang kecil di kota yang makin besar.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *