“Lu masih nyalain radio itu tiap maghrib, Bang?” tanya Ucup sambil nyender di pagar mushola
Gang kecil di Kuningan itu nggak pernah benar-benar sepi. Kadang rame, kadang lengang, tapi selalu ada suara yang jadi penanda waktu. Bukan suara mobil, bukan klakson, bukan juga azan dari speaker gede yang biasa kita denger di jalan besar.
Di sini, waktunya jalan pelan. Kayak orang lagi mikir, nggak buru-buru. Dan tiap sore menjelang maghrib, ada satu suara yang bikin semua orang ngerti… hari udah mau selesai.
“Masih lah, Cup. Ini radio udah kayak nyawa kedua gue,” jawab Bang Salim sambil nepuk pelan badan radio tua yang warnanya udah agak pudar
Bang Salim bukan orang terkenal. Nggak pernah jadi ustaz, bukan juga tokoh kampung yang sering dipanggil buat ceramah. Tapi hampir semua warga kenal dia. Soalnya dia yang ngurus mushola kecil di ujung gang.
Mushola itu nggak besar, bahkan bisa dibilang sederhana banget. Catnya udah agak kusam, lantainya dingin, dan kipasnya kadang bunyi kayak orang lagi ngeluh capek. Tapi entah kenapa, suasananya adem, tenang, kayak ada sesuatu yang bikin orang betah.
“Dulu abang tukang servis radio, ya?” tanya Dini yang baru pindah ke kontrakan depan mushola
“Iya, dulu banget. Jaman orang masih denger berita dari radio, bukan dari HP,” kata Bang Salim sambil senyum tipis
Radio tua itu bukan sekadar barang. Buat Bang Salim, itu kayak saksi hidup. Dari jaman dia masih muda, sampai sekarang rambutnya mulai memutih di samping.
Kadang suaranya jernih, kadang agak serak. Pernah juga tiba-tiba hilang, terus balik lagi kayak orang lagi iseng. Tapi warga di gang itu udah terbiasa.
“Kalau radio itu bunyi, berarti bentar lagi azan, ya Bang?” kata Ucup lagi
“Iya. Orang sini udah hafal. Nggak perlu liat jam juga,” jawabnya santai
Lucunya, di zaman yang semuanya serba digital, gang itu masih pakai cara lama buat nentuin waktu. Nggak ada aplikasi pengingat, nggak ada notifikasi. Cuma suara radio.
Dan anehnya, itu cukup.
Beberapa orang bilang ini ketinggalan jaman. Outdated. Tapi buat warga di sini, justru itu yang bikin beda. Ada rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata-kata teknis.
“Lebih enak gitu ya, Bang. Kayak… lebih kerasa hidupnya,” kata Dini pelan
“Nah itu dia. Lo ngerti maksud gue,” Bang Salim ketawa kecil
Di sore hari, biasanya anak-anak masih pada main di gang. Ada yang lari-larian, ada yang duduk sambil makan gorengan. Emak-emak juga masih ngobrol, bahas apa aja, dari harga cabai sampai gosip tetangga.
Tapi begitu radio itu mulai nyala, semuanya pelan-pelan berubah.
radio tua penanda waktu di kampung betawi
“Eh, udah bunyi tuh. Pulang yuk,” teriak salah satu anak kecil
Radio itu nggak langsung azan. Kadang ada suara siaran dulu, kadang cuma noise tipis kayak angin lewat. Tapi warga ngerti, itu tanda awal.
Perlahan, anak-anak mulai berhenti main. Yang tadinya ketawa-ketawa jadi lebih tenang. Yang tadinya lari, sekarang jalan pelan.
“Ayo masuk, jangan lama-lama!” teriak seorang ibu dari dalam rumah
“Iyaaa, bentar!” jawab anaknya, tapi tetap buru-buru beresin mainannya
Suasana gang berubah tanpa perlu disuruh keras-keras. Nggak ada yang maksa, nggak ada yang teriak marah. Semua kayak ngerti sendiri.
Bang Salim biasanya duduk di depan mushola, sambil dengerin radio itu. Tangannya kadang muter knop kecil, nyari frekuensi yang pas.
“Kadang sinyalnya ngaco, tapi ya gue sabarin aja,” katanya sambil senyum
Beberapa menit kemudian, azan mulai terdengar. Nggak dari speaker besar, tapi dari radio itu.
Suara azannya nggak terlalu keras. Bahkan bisa dibilang kecil. Tapi cukup buat nyampe ke telinga warga.
Dan entah kenapa, justru itu yang bikin suasananya lebih dalam.
“Gue lebih suka begini sih, Bang. Nggak terlalu kenceng, tapi kena,” kata Ucup
“Iya. Nggak perlu ribut buat bikin orang inget,” jawab Bang Salim
Di kota yang penuh suara, kadang yang pelan justru lebih terasa. Yang nggak maksa, tapi masuk ke hati.
Kayak soto Betawi yang disajikan hangat, nggak perlu teriak-teriak buat bikin orang datang. Aromanya aja udah cukup buat narik langkah.
“Kayak di warung Soto Betawi Bang Benz itu ya, Bang. Orang dateng sendiri,” kata Dini sambil ketawa
“Hehe, iya. Rasa mah nggak perlu promosi keras, yang penting konsisten,” jawab Bang Salim
Obrolan kecil kayak gitu sering muncul di mushola. Nggak berat, nggak ribet, tapi selalu ada makna di baliknya.
Malam mulai turun pelan. Lampu-lampu rumah nyala satu per satu. Suara motor kadang lewat, tapi nggak ganggu suasana.
Radio itu masih nyala, tapi volumenya dikecilin.
“Kenapa nggak diganti aja, Bang? Pakai speaker baru, lebih jelas,” tanya Dini suatu hari
Bang Salim diem sebentar. Nggak langsung jawab.
“Bisa sih. Tapi nanti rasanya beda,” katanya akhirnya
“Beda gimana?”
“Ya… hilang aja. Kayak lo ganti kenangan sama yang baru. Belum tentu cocok,” jawabnya pelan
Jawaban itu bikin Dini mikir. Kadang kita terlalu cepat pengen upgrade semuanya, tanpa sadar ada hal-hal yang justru indah karena sederhana.
Radio tua itu mungkin nggak sempurna. Kadang error, kadang suaranya patah-patah. Tapi justru di situ letak rasanya.
Kayak kampung ini.
Nggak rapi, nggak modern, tapi hidup.
“Selama masih bisa bunyi, gue pakai terus,” kata Bang Salim sambil nepuk radio itu lagi
Warga di gang Kuningan itu mungkin nggak sadar sepenuhnya. Tapi mereka pelan-pelan ngerawat sesuatu yang jarang ditemuin di kota besar.
Rasa kebersamaan yang nggak dibuat-buat.
Koneksi yang nggak perlu internet.
Dan waktu yang nggak dikejar-kejar.
“Kadang gue kangen suasana kayak gini, Bang,” kata Ucup sambil duduk di tangga mushola
“Ya jangan pergi jauh-jauh. Di sini juga cukup,” jawab Bang Salim santai
Malam makin dalam. Obrolan mulai sepi. Satu per satu warga masuk ke rumah masing-masing.
Radio itu akhirnya dimatiin.
Sunyi.
Tapi bukan sunyi yang kosong.
Lebih ke sunyi yang nyaman.
Kayak habis ngobrol panjang, terus sama-sama diem, tapi nggak canggung.
Di gang kecil itu, waktu nggak pernah benar-benar hilang.
Dia cuma jalan pelan.
Dan setiap sore, radio tua itu selalu jadi pengingat… kalau pulang itu bukan cuma soal tempat.
Tapi soal rasa.


