Di gang sempit Petamburan, antara warung kelontong dan bengkel motor, ada satu sudut kecil yang masih jadi saksi bisu wajah-wajah kampung. Di situ, tiap Sabtu dan Minggu pagi, Bang Sueb buka lapak sederhana buat motret warga. Nggak ada studio mewah, cuma tirai bunga-bunga pudar, kursi plastik bolong satu, dan kamera tua yang katanya udah dia bawa sejak zaman Orba.
“Ane udah motretin bocah dari kecil sampe sekarang dia yang minta motretin anaknya,” kata Bang Sueb sambil nyeka lensa kameranya yang udah agak buram tapi masih manjur.
Bang Sueb bukan tukang foto keliling biasa. Dia ibarat penjaga waktu buat warga kampung. Setiap jepretannya bukan cuma gambar, tapi rekaman rasa: ulang tahun anak, sunatan, nikahan sederhana, bahkan potret keluarga sebelum ada yang merantau. Di zaman orang udah gonta-ganti HP tiap tahun, kamera film Bang Sueb masih jadi andalan buat warga yang pengen “potret beneran”.
Tukang potret Betawi yang lawan arus zaman
Di era digital kayak sekarang, orang bisa selfie kapan aja. Tapi anehnya, lapak foto Bang Sueb malah makin rame. Bukan karena hasilnya paling jernih, tapi karena sensasinya beda. Orang-orang dateng bukan cuma buat difoto, tapi juga buat ngobrol, nostalgia, dan ngerasain proses motret yang nggak instan.
“Potret film mah kudu sabar, Neng. Nggak bisa dihapus, nggak bisa diulang, jadi orang yang difoto juga serius nahan pose,” ujar Bang Sueb waktu motret sepasang kakek-nenek yang baru aja ngerayain ulang tahun pernikahan ke-40.
Bang Sueb nyimpen ratusan klise negatif dalam dus bekas sepatu. Semua dia arsip sendiri, pakai label tahun dan nama pelanggan. Kadang ada warga yang nyari foto lamanya buat keperluan dokumen atau sekadar nostalgia. Dan tiap kali itu terjadi, wajah Bang Sueb selalu berubah haru.
“Ini nih… foto waktu emak masih ada. Ane inget banget hari itu. Habis motret, kita makan ketoprak bareng di depan SD,” kata seorang pemuda yang matanya mulai berkaca.
Potret kampung yang lebih dari sekadar gambar
Bagi sebagian orang, jasa tukang foto mungkin udah nggak relevan. Tapi di Petamburan, Bang Sueb masih jadi pilihan utama buat dokumentasi hajatan. Dari siraman sampai maulidan, dari ulang tahun sampai tahlilan, semuanya pernah dia abadikan. Ada rasa kepercayaan yang tumbuh dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.
“Abis motret, biasanya dia bantu-bantu juga beresin kursi, ngerapihin sajadah. Orangnya care,” kata Mpok Lilis, langganan setia yang tiap tahun minta difotoin bareng anak-anaknya.
Bang Sueb juga sering diajak jadi dokumentator buat acara budaya kampung. Pernah sekali, waktu ada arak-arakan dongdang di Petamburan, dia ikut motret sambil jalan mundur, nyelip-nyelip di antara rebana dan ondel-ondel. Fotonya kemudian ditempel di balai RW, jadi semacam galeri mini kampung.
“Ada seninya, Bang, motret kampung. Bukan sekadar tekan tombol. Kadang perlu nunggu momen, liat gestur, sampe ngerasa ini detik yang pas buat diabadikan,” ujarnya sambil nyeduh kopi hitam di gelas kaleng.
Kamera analog dan kenangan yang nggak bisa dipencet tombol delete
Kamera yang dipakai Bang Sueb itu Nikon FM2, warisan dari mertuanya. Udah lecet-lecet bodinya, tapi suara shutter-nya masih khas. Tiap kali dia jepret, ada bunyi ‘cetrek’ yang bikin semua orang di sekitarnya diam sesaat. Bunyi itu seakan bilang, “eh, momen lo barusan udah jadi sejarah.”
“Ane suka aroma roll film yang baru dicuci. Ada bau kimia yang campur sama rasa bangga. Bukan sembarang foto, tapi kenangan yang nggak bisa ilang walau HP rusak,” katanya waktu naruh hasil cetakan di atas meja kayu.
Nggak jarang, ada anak muda yang penasaran terus minta belajar. Bang Sueb ngajarin dengan sabar. Dari cara pasang film, ngatur ISO, sampai cuci cetak manual di kamar gelap. Waktu dia cerita soal komposisi dan pencahayaan, matanya kayak punya semangat yang nggak kalah sama vlogger zaman sekarang.
Petamburan, potret hidup warga Betawi yang masih punya rasa
Petamburan memang berubah. Banyak rumah yang udah direnovasi, motor makin padat, dan suara klakson lebih sering terdengar daripada suara main petak umpet. Tapi lewat potret Bang Sueb, kampung ini masih punya napas yang pelan tapi konsisten. Masih ada wajah-wajah lugu, senyum seadanya, dan tangan-tangan keriput yang digenggam erat.
Bang Sueb sendiri bilang, selama masih ada yang percaya sama kenangan, dia bakal terus motret.
“Selama warga masih pengen difoto, ane masih di sini. Kamera tua ini belum mau pensiun.”
Kalau lo mampir ke Petamburan, tanya aja ke warung atau tukang tambal ban. Semua pasti kenal Bang Sueb. Potret dia ada di mana-mana, bukan cuma di dinding rumah warga, tapi juga di ingatan yang nggak pengen kehilangan kampungnya sendiri.
Dan siapa tahu, satu hari nanti, lo juga bakal duduk di kursi plastik bolong itu. Senyum, menahan napas, dan klik… lo pun jadi bagian dari sejarah kecil di balik tirai bunga yang nyaris robek tapi tetap penuh makna.


