Ada satu suara yang selalu nempel di kepala Bang Rohim tiap kali hujan turun deras di Jakarta: suara gemuruh air nyeruduk terowongan pintu air Cideng. Bukan cuma karena kerasnya, tapi karena itu suara yang dari dulu jadi penanda: antara harapan biar nggak kebanjiran, sama deg-degan nunggu air kiriman dari atas sana.
Bang Rohim, umur udah 62 tahun, lahir dan besar di pinggiran kali dekat pintu air. Waktu kecil, dia sering main bareng temen-temennya di situ. Dulu belum banyak bangunan beton, masih tanah merah, kadang becek, kadang wangi air kali yang udah lama nggak disaring. Tapi buat mereka, itu tempat bermain terbaik.
“Dulu mah, anak-anak kampung sini kalau sore pada nyebur di pinggiran situ. Airnya kotor, iya. Tapi siapa yang peduli? Yang penting seru, ketawa bareng,” kenangnya sambil duduk di kursi rotan depan rumah kecilnya.
Sekarang suasana udah beda. Bangunan tinggi makin rapat, jalan makin sempit, dan suara motor ngalahin suara air. Tapi pintu air itu masih berdiri, masih jadi penjaga setia, walau wajahnya udah nggak secantik dulu.
Pintu air sebagai simbol perubahan Jakarta dari masa ke masa
Dulu, pintu air Cideng jadi batas antara kampung dan kota. Warga kampung sebelah barat, kantor-kantor di sebelah timur. Tapi sekarang, semuanya udah nyaru. Ruko, kos-kosan, warung kopi kekinian, sampe parkiran liar tumpah ruah di sekitar situ. Yang dulu tempat warga ngobrol sambil ngopi, sekarang penuh suara mesin dan klakson.
Bang Rohim inget banget, waktu tahun 90-an, pintu air Cideng sempat diperbaiki dan ditinggikan. Saat itu, warga sekitar semangat bantu gotong royong. Tapi, makin ke sini, perhatian ke tempat itu makin menipis. Banyak warga baru nggak tahu sejarahnya. Padahal buat orang lama, pintu air bukan cuma soal aliran sungai. Itu simbol pengikat kampung.
“Dulu tiap Lebaran Haji, anak-anak sering main di situ sambil bawa balon air. Bahkan ada yang mandi bareng kambing kurban! Lucu tapi nyata,” ujar Bang Rohim sambil ngakak.
Kenangan warga kampung yang pelan-pelan tergilas waktu
Ada satu hal yang selalu dirinduin Bang Rohim: obrolan pagi di depan pintu air. Waktu itu, masih ada Bang Sugeng, tukang tambal ban. Ada juga Mpok Narti yang dagang gorengan sambil bawain cerita gosip dari ujung gang. Mereka bukan cuma pedagang atau tukang, tapi penjaga atmosfer kampung yang sekarang udah jarang.
“Sekarang sih orang-orang lewat doang. Nunduk liat HP. Nggak ada lagi yang negur, yang duduk ngaso di pinggir kali,” gumamnya pelan.
Perubahan ini bikin suasana kampung yang dulu hidup, jadi lebih sepi. Anak-anak udah nggak main di pinggir kali, ibu-ibu udah jarang ngerumpi sambil nyuci baju. Bahkan suara bakul es lilin yang biasa teriak tiap siang pun udah ilang dari sekitar situ.
Bang Rohim suka jalan pagi ke arah jembatan Cideng. Dia berhenti sebentar, liat air yang ngalir deras kalau habis hujan. Kadang dia ngerasa kayak lagi liat film dokumenter tentang kampungnya sendiri — satu per satu tokoh lama menghilang, digantikan wajah-wajah baru yang nggak ngerti cerita di balik tembok pintu air itu.
Pintu air Cideng dalam cerita warga dan dongeng kampung
Dulu sempat ada cerita yang berkembang dari mulut ke mulut: katanya di balik pintu air itu ada lorong bawah tanah yang nyambung ke Monas. Konon, lorong itu dipakai zaman dulu buat ngangkut logistik tentara. Bang Rohim ketawa tiap denger cerita itu, tapi dia juga sadar, dongeng semacam itu bikin kampungnya hidup. Bikin anak-anak kecil punya rasa penasaran dan kebanggaan.
“Anak-anak kecil dulu tuh pada bilang, kalau bisa nyelam dari pintu air ke ujung lorong, nanti jadi pahlawan. Ya jelas bohong. Tapi mereka mainin terus tuh cerita, sampai sore.”
Sekarang, pintu air itu lebih sering jadi latar belakang konten TikTok atau Instagram. Anak-anak muda pada duduk di pinggiran jembatan, ngopi sambil foto-foto. Bukan salah mereka. Tapi Bang Rohim kadang pengen, ada satu-dua dari mereka yang nanya ke warga lama soal sejarah tempat itu.
Karena tempat itu pernah jadi jantung kampung. Tempat orang nangis waktu banjir, tempat orang teriak bahagia waktu air surut. Tempat nenek-nenek duduk sore sambil nyeritain zaman Belanda. Dan tempat Bang Rohim jatuh cinta pertama kali sama anak penjual lontong di seberang jalan.
“Namanya Wiwi. Sekarang entah ke mana. Tapi tiap liat air mengalir, gue inget dia… karena dia sering nungguin gue main di situ, bawa dua plastik es teh manis.”
Antara nostalgia dan realita: wajah baru yang tak sepenuhnya ramah
Pemerintah kota pernah ngadain proyek revitalisasi di kawasan itu. Dicat ulang, dikasih pagar besi tinggi, dipasang lampu taman. Tapi Bang Rohim merasa ada yang ilang: rasa milik. Dulu pintu air itu bagian dari hidup warga, sekarang lebih kayak museum terbuka yang cuma bisa dilihat, nggak bisa dirasain.
“Dulu kita bisa duduk, bisa ngobrol, bisa nyanyi sambil mijit kaki di pinggirannya. Sekarang mah, baru nyender dikit aja udah diusir satpam.”
Memang, perubahan itu perlu. Tapi kalau semuanya dibersihin sampai hilang jejak masa lalu, kampung ini bakal kehilangan ruhnya. Dan pintu air Cideng, yang dulu jadi pelindung dan penghubung rasa, bisa jadi tinggal bangunan tua yang asing buat generasi baru.
Padahal, kalau kita mau, tempat itu bisa jadi ruang belajar, ruang nostalgia, bahkan ruang temu antar zaman. Nggak harus megah. Cukup dibiarkan hidup dalam cerita-cerita warga yang pernah tumbuh di sekitarnya.
Hari ini, Bang Rohim masih sering duduk di bawah pohon rindang yang tinggal satu-satunya di pinggir jembatan. Kadang ada yang nyapa, kadang cuma angin. Tapi selama pintu air itu masih berdiri, selama airnya masih ngalir ke arah kali besar, dia percaya: kenangan kampung ini belum benar-benar hilang.


