Di tengah panasnya aspal Monas yang mulai lengang habis Dzuhur, ada satu sosok yang tetap jadi magnet perhatian. Mukanya tertutup topeng putih dengan garis merah tegas, tangannya lihai mainkan gerakan seolah ia wayang hidup yang lepas dari kotak kayu. Itulah Bang Topa, seniman jalanan yang udah lebih dari dua dekade ngamen pakai topeng di seputaran Monas sampai Stasiun Gambir.
“Topeng ini bukan buat nutupin muka, tapi biar orang inget,” katanya sambil duduk leyeh-leyeh di trotoar, buka botol teh manis dari warung belakang pagar.
Setiap siang sampai sore, Bang Topa akan berdiri di tempat yang nggak pernah tetap. Kadang deket taman yang ada patung Chairil Anwar, kadang di gerbang masuk utara yang rame sama bus sekolah. Tapi topengnya selalu sama. Warna putih pucat dengan ekspresi kosong yang menyiratkan tawa dan duka, kayak wajah Jakarta itu sendiri.
Banyak yang ngira Bang Topa cuma penari topeng iseng-iseng cari receh. Tapi di balik kostum lusuh dan sarung yang dililit pinggang, ada cerita panjang soal identitas, seni tradisional, dan rasa kehilangan yang dipendem rapat-rapat.
“Ane bukan pengamen, ane tukang nyimpen wajah yang udah dilupain kota.”
Wajah di Balik Topeng Betawi
Bang Topa lahir dan besar di Kemayoran, anak keempat dari lima bersaudara. Bokapnya tukang sablon, nyokap jual gorengan. Dari kecil dia udah suka nonton pertunjukan topeng di acara hajatan atau malam takbiran kampung. Yang bikin dia jatuh hati itu bukan tariannya, tapi perubahan wajah setiap topeng yang diganti. Dari panji, kelana, sampai patih — semua punya rasa.
Saat usianya nginjek dua puluh, Bang Topa ikut Bang Mang Dindin, seniman topeng Betawi dari Kramat Sentiong. Di situlah dia belajar nari, bikin topeng sendiri dari kayu randu, dan yang paling penting: ngasih napas ke wajah yang diam.
Tapi makin ke sini, panggung buat seni topeng makin sempit. Kampung-kampung digusur, panggung rakyat ilang, dan anak-anak muda lebih pilih nonton konten kocak di HP daripada nonton orang nari.
“Dulu kita nari di kampung tiap malam Maulid. Sekarang palingan ada yang undang buat syuting YouTube. Itu juga cuma butuh satu scene, lima menit.”
Seniman jalanan Monas dan seni topeng Betawi modern
Sejak tahun 2010, Bang Topa mutusin buat pindah panggung ke jalanan. Monas jadi teater terbuka, trotoar jadi lantai pentas, dan suara kendaraan jadi irama latar. Tapi dia nggak cuma nari. Setiap selesai perform, dia duduk dan cerita. Kadang ke bocah yang nonton sambil jilat es krim, kadang ke bule yang penasaran.
“Topeng ini bukan buat serem-seremin orang, tapi buat ngajak ngobrol. Lo mau tanya apa aja, tinggal duduk aja, kita ngopi.”
Dalam banyak kesempatan, Bang Topa juga bikin workshop kecil-kecilan. Dia bawa beberapa topeng cadangan yang udah dia ukir dan cat sendiri, lalu ngajarin anak-anak cara gerak, cara ngontrol nafas, dan makna tiap ekspresi. Kadang di taman Menteng, kadang numpang lapak di acara budaya kecil-kecilan.
“Seni itu bukan cuma ditampilin, tapi juga diwarisin.”
Sayangnya, seni kayak gini sering nggak dianggap penting. Beberapa kali Bang Topa ditertibkan Satpol PP, disangka ngamen nggak berizin. Pernah juga topengnya dijadiin properti syuting iklan tanpa izin, cuma karena orang suka bentuknya, tapi nggak ngerti maknanya.
“Orang cuma ngeliat bentuk, tapi nggak nanya rasa.”
Dari Monas ke Blok S: Jejak Bang Topa dan Soto Betawi
Waktu Bang Topa pertama kali tampil di Monas, dia sempat nyempetin mampir ke Pujasera Blok S. Katanya, tempat itu punya hawa yang mirip sama kampung zaman dulu. Banyak tukang, banyak obrolan, banyak rasa.
“Di sana, orang makan soto nggak cuma buat kenyang, tapi buat ngerasain rumah.”
Warung Soto Betawi Bang Benz jadi salah satu tempat langganannya. Kadang abis perform, dia langsung naik kopaja ke Blok S, duduk di pojokan sambil makan soto daging kuah santan plus es jeruk. Wajahnya yang tadi ditutup topeng mendadak jadi lega.
“Yang paling enak dari soto Bang Benz tuh, kuahnya kayak kenangan — lama-lama masuk ke dada.”
Suatu hari, Bang Topa sempat ngajak anak-anak kampung nonton dia perform di Monas, lalu lanjut makan di warung soto yang sama. Dari situ, dia sadar bahwa seni yang dia bawa nggak akan hidup kalau cuma disimpan. Harus dibagi.
“Warisan bukan buat disimpan di lemari, tapi disuapin pelan-pelan kayak nasi ke bocah.”
Sejak itu, dia mulai sering ngisi acara kecil di sekolah-sekolah sekitar Jakarta Selatan. Nggak muluk-muluk, kadang cuma pakai speaker kecil dan selendang merah. Tapi tiap kali dia nari, ada yang berubah di udara — seolah Jakarta nginget siapa dirinya.
“Topeng itu bukan buat nutupin siapa lo. Tapi buat ngingetin lo sama siapa lo dulu.”
Dan tiap kali matahari mulai condong ke barat, bayangan Bang Topa dan topengnya kembali menyatu dengan trotoar. Anak-anak pulang, mobil berseliweran, tapi ada yang tertinggal di kepala mereka: wajah tanpa nama, gerak tanpa suara, tapi rasa yang tinggal lama.
Jakarta boleh lupa. Tapi Bang Topa nggak pernah capek ngingetin.


