Di kampung Kramat Jati, tepatnya di gang sempit belakang musala Al-Muhtadin, hidup seorang nenek yang dipanggil semua orang dengan nama Mpok Nah. Usianya udah lebih dari enam puluh lima, tapi langkah kakinya masih sigap, suaranya masih lantang, dan matanya tajam penuh percaya diri. Yang bikin orang-orang selalu ingat sama dia bukan cuma karena lontong sayur buatannya, tapi juga karena satu kebiasaan turun-temurun yang belum ditinggalkan: nyelipin daun salam di kantong baju cucunya.
“Biar anak nggak ketempelan angin jelek, biar nggak gampang rewel,” kata Mpok Nah sambil melipat baju bersih cucunya di pagi hari.
Kebiasaan ini udah jadi semacam ritual kecil tiap anaknya atau cucunya mau pergi jauh, apalagi kalau masuk sekolah atau ikut acara keluarga. Daun salam itu diselipin rapih di saku baju, kadang dilapisin tisu, kadang dibungkus kertas coklat. Bukan cuma simbol, tapi juga perlindungan.
Beberapa orang muda mungkin nganggep itu klenik, tapi buat warga kampung, terutama emak-emak seangkatan Mpok Nah, itu bagian dari warisan hidup yang nggak bisa begitu aja dibuang.
Tradisi perlindungan anak Betawi yang makin jarang kelihatan
Di tengah kota yang makin padat dan modern, kebiasaan-kebiasaan semacam ini mulai dianggap aneh. Tapi di sudut-sudut kampung Jakarta yang masih bertahan, keyakinan bahwa alam gaib itu nyata masih kental. Mpok Nah pernah cerita, waktu anak pertamanya demam tinggi tanpa sebab, dia didatangi mimpi. Dalam mimpinya, ada suara perempuan bilang, “Itu anak kena angin pintu.”
Sejak saat itu, daun salam selalu jadi pelindung wajib di saku bajunya. Bukan cuma buat anak-anak, kadang orang dewasa yang lagi sakit pun dia kasih. Apalagi kalau habis dari pemakaman atau tempat keramaian.
“Zaman dulu mah kita nggak punya hand sanitizer, yang ada daun salam, daun sirih, sama doa,” katanya sambil ketawa kecil.
Gaya hidup warga Betawi memang erat sama kepercayaan-kepercayaan turun-temurun. Bukan dalam artian mistis semata, tapi lebih ke bentuk penjagaan, bentuk cinta. Lewat cara-cara sederhana yang diwarisin dari nenek buyut mereka.
Kenapa harus daun salam, bukan daun lain?
Pertanyaan itu pernah dilontarkan sama cucu Mpok Nah yang paling kecil. Namanya Rifa, umur delapan tahun, kritis dan suka nanya. Mpok Nah cuma mesem, lalu nyeduh teh manis sambil ngeluarin kotak kayu kecil berisi daun-daun kering.
“Daun salam itu wanginya adem. Dia bisa nenangin. Katanya, bisa ngusir hawa buruk. Nenek nggak tau pastinya kenapa, tapi sejak kecil, emak gue juga begitu. Mungkin karena ademnya itu bawa ketenangan.”
Di banyak budaya Indonesia lain, daun salam juga dianggap punya energi pelindung. Tapi di kampung Betawi, penggunaannya jadi lebih personal. Nggak ribet, nggak perlu mantra, cukup doa ringan sambil niupin daun sebelum diselipin ke baju anak. Kadang juga dibacain surat pendek. Semuanya dilakukan dengan harap, bukan takut.
“Kita jaga anak bukan karena dunia jahat, tapi karena kita sayang banget sama mereka.”
Warung soto dan obrolan tentang daun
Pagi itu, di warung Soto Betawi Bang Benz, obrolan tentang daun salam mendadak jadi bahan ngobrolan. Mpok Nah mampir sambil bawa rantang kosong, duduk bareng Bang Komar dan Mpok Ijah.
“Gue denger tuh, sekarang anak muda pada bilang nggak butuh ginian. Katanya, lebih penting vaksin ama vitamin.”
“Iya sih, penting juga. Tapi daun salam ini bukan buat nyembuhin, Komar. Buat nenangin aja. Gue kasih ke cucu gue biar dia ngerasa dilindungin. Biar dia tahu ada yang sayang banget sama dia.”
Bang Komar yang biasanya nyablak pun diem. Sambil nyeruput soto kuah bening pesenan dia, matanya melirik anak-anak yang lagi main di seberang warung. Dalam diam itu, suasana terasa lebih hangat dari biasanya.
Warung Bang Benz yang biasanya riuh sama suara piring dan sendok, pagi itu jadi ruang kecil buat refleksi. Bukan cuma tempat makan, tapi tempat ngobrolin hal-hal yang udah jarang disentuh di layar gadget.
Apa yang hilang kalau tradisi ini lenyap?
Banyak hal sederhana yang sebenarnya punya makna besar. Daun salam yang digulung kecil dan diselipin ke baju mungkin keliatan remeh. Tapi di situ ada rasa aman, ada perhatian, ada koneksi batin antara generasi. Ketika anak kecil tumbuh tanpa tahu bahwa dulu pernah ada nenek yang selalu siapin saku bajunya dengan doa dan daun, maka putuslah satu mata rantai kebaikan.
Di tengah gempuran gaya hidup modern, banyak orang tua lebih percaya aplikasi pengingat vitamin ketimbang naluri. Mereka lupa bahwa yang membentuk anak bukan cuma zat gizi, tapi juga ikatan emosional, dan hal-hal kecil kayak gini lah bentuknya.
“Gue nggak maksa anak-anak gue buat ngikutin semuanya. Tapi gue pengen mereka tahu, kalau ada cinta yang diselipin ke saku baju mereka dari dulu. Itu nggak pernah ilang.”
Mpok Nah dan warisan yang nggak tertulis
Satu hal yang selalu bikin orang kangen kampung adalah rasa aman yang nggak bisa dijelasin. Kayak pulang ke rumah dan nyium aroma masakan dari dapur, suara ayam dari kebon, atau denger tetangga manggil nama kita dari balik pagar.
Tradisi nyelipin daun salam ini bisa jadi salah satu penjelas rasa aman itu. Karena tanpa sadar, kita tumbuh dalam kehangatan dan perhatian yang nggak dibesar-besarkan, tapi nyata.
Mpok Nah mungkin nanti nggak ada, dan warung sotonya bisa aja berubah jadi tempat parkir. Tapi cerita tentang daun salam, tentang kantong baju anak yang selalu diisi doa, itu yang akan terus hidup. Lewat kata-kata, lewat cerita, dan mungkin suatu hari, lewat cucu-cucu yang penasaran kenapa dulu nenek mereka selalu pegang daun di tangan.


