Di satu sore yang teduh di Condet, suara musik khas terdengar dari arah lapangan RW. Alunan klarinet dan tuba berpadu harmonis dengan kendang dan simbal. Suaranya bukan dari speaker modern, tapi dari tangan-tangan renta dan muda yang saling isi. Itulah suara tanjidor, musik kebanggaan Betawi yang masih nyaring terdengar meski zaman udah bergeser.
“Dulu mah, tiap ada manten lewat, yang ngiring tanjidor. Sekarang mah ngiring lomba masak nasi goreng,” celetuk Bang Dul sambil ngakak.
Bang Dul adalah salah satu anggota kelompok tanjidor Kampung Baru, yang udah eksis dari zaman bapaknya masih megang trombon. Dulu, grup ini sering manggung di acara nikahan, sunatan, sampe syukuran rumah. Tapi sekarang, mereka lebih sering diundang ke festival kota, dari tingkat kecamatan sampe pentas budaya nasional.
“Rejeki mah ada aja, asal kita jaga tradisi,” ujar Bang Dul sambil ngelap trompet peninggalan almarhum pamannya.
Tanjidor sendiri asalnya dari zaman kolonial, adaptasi musik barat yang di-Betawi-kan. Tapi soal rasa, jangan ditanya. Musiknya bisa bikin kaki joget sendiri, apalagi kalau udah masuk bagian pantun bersahutannya.
“Bang Dul, kemaren saya liat grup tanjidor tampil di CFD, itu rombongan dari sini ya?”
“Bukan, itu dari Cengkareng. Tapi kita juga pernah main di CFD, yang tahun kemarin, pas Hari Jakarta.”
Kelompok tanjidor Kampung Baru punya ritual unik sebelum tampil. Mereka kumpul di rumah ketua kelompok, ngopi, latihan sekali dua kali, lalu berangkat bareng naik mobil bak terbuka sambil bawa alat musik. Di jalan, kadang mereka iseng mainin satu-dua lagu, bikin orang di pinggir jalan pada senyum-senyum.
“Kita main bukan buat gaya-gayaan, tapi biar orang inget sama tanjidor,” ujar Wiwid, pemain simbal termuda di kelompok itu.
Anak-anak muda memang makin sedikit yang mau belajar tanjidor. Sebagian lebih tertarik jadi YouTuber atau main musik digital. Tapi Wiwid beda. Dia belajar dari kakeknya, dan sekarang ngajarin anak-anak kecil di mushola tiap sore minggu.
“Kalo bukan kita yang nerusin, siapa lagi? Masa nanti yang megang trompet malah boneka animatronik?”
Suasana festival kota jadi makin meriah kalau ada tanjidor. Dentuman kendang, serempetan klarinet, dan sorak warga yang nostalgia bikin suasana hangat. Kadang mereka bawain lagu Betawi klasik, kadang lagu dangdut yang diaransemen ala tanjidor.
“Pernah tuh, kita main lagu ‘Cinta Satu Malam’ pake format tanjidor. Penonton sampe joget bareng!”
Selain tampil, grup tanjidor ini juga sering diundang buat workshop budaya. Mereka ngajarin cara main alat-alatnya ke anak-anak sekolah. Bang Dul bilang, mereka bukan cuma main musik, tapi juga jadi penyambung cerita Betawi ke generasi sekarang.
“Tiap nada ada sejarahnya, tiap lagu punya cerita. Kita mainin bukan cuma buat rame, tapi buat ngenalin akar.”
Dulu, tanjidor suka dianggap musik kelas dua. Tapi sekarang, dengan panggung-panggung budaya makin rame, tanjidor balik jadi sorotan. Bahkan sempat tampil bareng orkestra mini di Taman Ismail Marzuki, dalam acara kolaborasi lintas budaya.
“Waktu itu kita main bareng pemain biola dan pianis muda. Campurannya unik, tapi enak!”
Warga Betawi merasa tanjidor bukan sekadar musik, tapi napas kampung yang hidup di tiap acara. Dari kampung ke kota, dari hajatan ke festival, tanjidor tetap bersuara.
Dan meski zaman terus jalan, selagi masih ada tangan yang mau meniup trompet dan memukul kendang, tanjidor akan terus hidup. Di tengah gedung-gedung tinggi Jakarta, suara tanjidor jadi pengingat: bahwa akar budaya itu bukan buat dipajang, tapi dimainkan.
Satu-dua anak muda di festival kemarin sempet nyeletuk:
“Eh keren juga ya, musik beginian. Nggak kalah sama band indie!”
Bang Dul cuma senyum sambil nyender di tembok panggung. Di sebelahnya, trompet tua masih bersandar, nunggu dibunyikan lagi besok pagi di festival berikutnya.


