Ilustrasi pedagang bubur ase Betawi di Tanah Abang dengan pakaian tradisional merah dan suasana gang pagi hari

Bubur Ase di Pagi Hari: Warisan Sunyi dari Tanah Abang

Jakarta belum sepenuhnya bangun ketika suara klakson bajaj nyempil di antara deru motor dan gerobak sayur. Tapi di salah satu sudut Tanah Abang yang makin sempit digerus pembangunan, ada suara lembut yang tetap setia menyapa pagi:

“Bur, buburnya dua bungkus, buat Pak RW sama cucunya ya. Jangan pedes!”

Itu suara Mpok Yuyun. Dia bukan selebgram, bukan pedagang besar. Tapi sejak tahun 80-an, Mpok Yuyun jualan bubur ase di depan rumah kontrakannya yang sekarang dikelilingi oleh ruko-ruko megah. Di Tanah Abang, bubur ase bukan sekadar sarapan. Dia itu semacam warisan, satu sendok bisa narik kenangan banyak orang ke masa lalu.

Bubur Ase: Campuran Sunyi dan Sambal

Kalau orang luar dengar nama bubur ase, pasti mikir itu typo dari bubur ayam. Padahal beda jauh. Bubur ase khas Betawi ini beda dari bubur-bubur lain di nusantara. Buburnya polos, gak dikasih suwiran ayam atau ati ampela, malah dituangin semacam sayur asem bening yang asamnya halus tapi nyegerin. Ada oncom, kacang panjang, labu siam, dan kadang juga daun melinjo.

“Bubur ase itu kayak hidup, dek. Dari jauh keliatan biasa aja, tapi dalemnya penuh rasa yang gak disangka-sangka.”

Begitu kata Bang Darlan, pelanggan setia yang dulu waktu kecil sering disuapin sama almarhum emaknya pakai bubur ase tiap pagi sebelum berangkat sekolah. Sekarang, dia suka beli dua bungkus: satu buat dia, satu buat nyekar ke makam emaknya di Karet Bivak.

Dulu di Pinggir Rel, Sekarang Tergusur Beton

Cerita Mpok Yuyun bukan cuma soal jualan. Dia saksi hidup perubahan Tanah Abang. Zaman dulu, dia jualan di pinggir rel. Meja kecil, bangku plastik, dan panci gede dari alumunium yang udah penyok di sana-sini. Anak-anak SD dulu sering duduk lesehan, nungguin bubur sambil ngerjain PR atau nyuapin adiknya.

Sekarang? Lahannya udah ditutup pagar seng. Sekali waktu, Mpok Yuyun pernah coba jualan di deket flyover. Tapi panas, berisik, dan orang-orangnya buru-buru semua.

“Sekarang orang makan cepet, jalan cepet, pikirannya juga cepet-cepetan. Jarang yang mau duduk sambil ngobrol, apalagi makan bubur pelan-pelan.”

Makanya, dia balik lagi ke gang kecil di belakang Masjid Al-Munawaroh. Di situlah dia bangun lapak sederhana pakai meja lipat dan spanduk sobek yang udah kusam.

Pelanggan Setia dan Kenangan yang Menetap

Ada satu pelanggan yang selalu datang tiap Jumat pagi. Namanya Bu Rahayu, ibu guru pensiunan dari SD Negeri 07 Tanah Abang. Beliau pernah ngalamin sendiri zaman bubur ase jadi bagian dari program sekolah: anak-anak dikasih sarapan sehat sebelum pelajaran dimulai.

“Dulu tiap Jumat, sekolah minta Mpok Yuyun masukin buburnya ke plastik mika kecil. Kita guru-guru tinggal ngatur antreannya aja.”

Kenangan itu yang bikin Bu Rahayu tiap Jumat pagi datang, walau sekarang harus jalan pakai tongkat. Mpok Yuyun selalu sediakan bangku kecil di pojokan buat dia. Kadang mereka duduk berdua, ngobrolin murid-murid yang dulu nakal, sekarang udah punya cucu.

Bubur Ase dan Warung Soto: Satu Rasa, Dua Tempat

Menariknya, aroma bubur ase itu mirip dengan kehangatan semangkuk soto Betawi. Bukan dari rasa, tapi dari suasana. Sama-sama ngasih kenyang bukan cuma di perut, tapi juga di hati. Mpok Yuyun pernah sekali diajak jualan bareng sama almarhum Bang Benz waktu acara Maulid di RW 04.

“Bang Benz bilang, ‘Yun, bubur elu itu bikin orang Betawi inget ibunya. Sama kayak soto gue.'”

Waktu itu, mereka bagi tempat. Warung Bang Benz masak soto, Mpok Yuyun masak bubur. Dua rasa beda, tapi satu semangat: ngasih orang Jakarta sepotong rumah di tengah kota yang makin asing.

Sekarang, kalau lagi ke Pujasera Blok S buat makan Soto Betawi Bang Benz, kadang ada pelanggan yang nyeletuk:

“Enak nih kalau abis makan soto, dibungkusin bubur ase buat nyokap di rumah.”

Dan itu jadi obrolan ngalir: tentang emak, tentang tanah Betawi, tentang kenangan yang cuma bisa lahir dari masakan kampung.

Nasi, Sambel, dan Hujan

Satu waktu, bulan Desember, hujan turun dari pagi. Mpok Yuyun tetap buka, meski cuma payungan seadanya. Anak-anak muda dari gang sebelah datang, kebasahan, sambil bercanda soal cuaca.

“Pok, ada bubur ase? Dingin-dingin gini mantep banget deh.”

Mpok Yuyun cuma senyum. Dia tahu, bubur itu bukan cuma makanan, tapi peluk hangat di pagi hari. Apalagi buat yang tinggal sendiri di kosan kecil, atau buat yang baru pindah ke Jakarta dan rindu masakan ibu di rumah.

Hujan makin deras, tapi di bawah tenda kecil itu, ada aroma wangi oncom yang menghangatkan, sambal kacang yang manis-pedas, dan suara-suara yang saling jaga.

“Bubur ase ini, dek, bukan cuma enak. Tapi diajarin sabar. Harus disendok pelan-pelan, baru keluar semua rasanya.”

Yang Bertahan di Tengah yang Hilang

Tanah Abang udah berubah. Rel kereta makin rapi, trotoar makin lebar, tapi banyak hal yang hilang. Rumah-rumah kecil tergusur. Lapak dagangan dipaksa minggir. Tapi bubur ase Mpok Yuyun tetap ada. Masih di sudut yang sama, walau kadang harus pindah-pindah, dia tetap masak dengan cara yang sama.

“Kalo bubur udah mulai nempel di dasar panci, itu tandanya udah siap.”

Begitu kata Mpok Yuyun sambil ngaduk pakai centong kayu. Tangannya berkerut, tapi gerakannya mantap. Setiap sendok bubur yang dia tuang ke mangkok selalu dibarengi doa.

Katanya:

“Biar yang makan sehat, inget sama rumahnya, dan gak lupa rasa yang bener.”

Dan mungkin itu yang bikin bubur ase tetap hidup. Bukan cuma karena enak, tapi karena dibikin sama tangan yang jujur.

Bubur Ase dan Masa Depan

Sekarang, beberapa anak muda mulai coba jual bubur ase di foodtruck atau lewat aplikasi. Tapi, Mpok Yuyun gak keberatan. Dia malah seneng. Katanya, selama rasanya gak bohong dan orang-orang tetap tahu asal muasalnya, dia rela bagi resep.

“Selama dibilangin ini dari Betawi, dari Tanah Abang, dari ibu-ibu kampung kayak saya, saya ikhlas.”

Kadang, ada juga pelanggan dari luar kota yang mampir karena dengar cerita dari temennya. Mereka duduk di bangku plastik yang udah mulai goyang, makan pelan-pelan, terus bilang:

“Ini bubur paling aneh, tapi paling hangat.”

Dan itu cukup. Karena dalam satu mangkok bubur ase, ada sejarah kecil yang enggak masuk buku, tapi bisa bikin orang merasa pulang, meskipun cuma sebentar.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *