ilustrasi suasana pasar Jumat tradisional di Kalibata dengan pedagang dan warga Betawi sedang berinteraksi hangat

Pasar Jumat dan Silaturahmi Warga: Belanja Sekalian Ngobrol di Kampung Kalibata

Di Kalibata, setiap hari Jumat pagi, suasana berubah total. Jalan kecil yang biasanya sepi, mendadak rame kayak pasar malam. Tapi ini bukan pasar malam, ini pasar Jumat. Lapak-lapak sederhana dari terpal biru atau tikar plastik mulai digelar sejak subuh, pedagang satu per satu berdatangan sambil nyeret gerobak atau gotong bakul besar di kepala.

Bang Joko, salah satu pedagang sayur langganan warga sekitar, udah buka lapak dari jam lima. Mukanya keliatan cerah meski mata masih sembab. Tangannya cekatan nyusun kangkung, kol, cabe, dan tomat yang dibungkus daun pisang. Di sampingnya, ada Mpok Eti yang jualan ikan asin dan sambel terasi, bawa senyum khas yang selalu bisa ngusir kantuk warga.

“Ayo belanja dulu, Bu! Ikan asin baru, sambelnya pedes kayak mertua!”

Suara teriakan jualan itu bikin suasana makin hidup. Ada yang ketawa, ada yang nawar, ada juga yang cuma lewat sambil nyapa. Di sinilah bedanya pasar tradisional sama mall. Semua lebih deket, lebih manusiawi, lebih berasa kayak rumah sendiri.

Mak Jamilah yang tinggal di Gang Seruni udah langganan ke pasar ini sejak dulu. Tiap Jumat, dia pasti jalan pelan-pelan sambil bawa tas kain lusuh, bukan sekadar nyari sayur, tapi juga ngobrol.

“Gue mah ke pasar bukan cuma belanja. Kadang pengen ketemu orang, denger kabar, ngerasain rame.”

Kalimat itu dia ucapin waktu Bang Dul, tukang gorengan, nanya kenapa Mak Jamilah sering nongkrong di lapak walau belanjanya cuma dua ribu.

Pasar Jumat di Kalibata: Tradisi Belanja dan Silaturahmi Warga

Pasar Jumat bukan cuma tempat transaksi. Buat warga Kalibata, ini semacam ajang reuni mingguan. Ibu-ibu ngobrol soal anaknya yang baru masuk kerja, bapak-bapak ngebahas harga BBM sambil ngopi di bangku semen pinggir jalan. Anak-anak kecil pun ikut heboh, lari-larian nyari mainan plastik yang dijual murah di ujung gang.

Kalau dilihat sekilas, pasar ini kayak berantakan. Tapi di balik itu, ada irama yang teratur. Ada jalur khusus buat pembeli, ada lapak makanan di bagian selatan, dan pedagang baju di sisi utara. Semuanya udah ngerti posisi masing-masing tanpa perlu koordinasi formal. Semua bergerak berdasarkan kebiasaan, kayak tarian kampung yang nggak tertulis tapi selalu sinkron.

Yang bikin suasana tambah hangat, ada aroma khas dari lapak soto yang selalu jadi incaran. Soto kuah santan, potongan daging empuk, sambal cabai rawit, dan kerupuk merah-putih yang ditabur di atasnya. Bukan cuma ngisi perut, tapi juga ngisi kenangan. Banyak yang bilang rasa sotonya mirip banget kayak di warung Soto Betawi Bang Benz di Blok S.

“Gue sampe bela-belain dateng pagi-pagi cuma buat makan sotonya, rasanya kayak di rumah.”

Ucapan itu keluar dari Bang Kumis, tukang parkir veteran yang tiap Jumat selalu dapet traktiran dari langganan tetapnya. Dia juga sering jadi pemandu informal buat orang baru yang nyasar di tengah keramaian pasar.

Dari Sayur Mayur sampai Barang Antik: Lengkap dan Penuh Cerita

Selain sayur dan lauk pauk, pasar ini juga punya banyak kejutan. Di pojokan dekat pos ronda, ada lapak buku bekas. Mas Ijal yang jaga di situ bukan sekadar jual buku, tapi juga tukang cerita. Tiap pengunjung yang mampir bakal ditawarin buku sambil dikasih cerita latar belakangnya.

“Ini buku resep warisan nyokap gue. Dulu dia dagang kue cucur di kampung Melayu.”

Cerita begitu bikin orang betah nongkrong. Bahkan ada yang beli buku bukan karena butuh, tapi karena pengen punya potongan kenangan dari orang lain. Di lapak sebelahnya, ada pedagang barang antik yang suka pajang radio tua, jam weker jadul, dan setrika arang. Semua barang punya cerita, semua cerita punya tempat di pasar ini.

Makanya, pasar Jumat di Kalibata ini nggak bisa diganti sama e-commerce. Belanja online mungkin cepet, tapi nggak bisa gantiin sensasi ngelangkah pelan di antara kerumunan, nyium aroma dapur kampung, dan denger suara khas penjual yang manggil pake logat Betawi.

Soto, Obrolan, dan Pulang dengan Hati Penuh

Menjelang jam sembilan, pasar mulai pelan-pelan sepi. Tapi justru di jam-jam itu, obrolan jadi makin dalam. Pedagang mulai duduk leyeh-leyeh, pembeli yang udah selesai belanja duduk di bawah pohon sambil makan bubur kacang ijo. Anak-anak mulai bosen dan tidur di pangkuan ibunya. Warga yang tadinya sibuk, pelan-pelan larut dalam ritme santai khas kampung.

Bang Mamat, tukang bubur, bilang kalau pasar Jumat itu bukan sekadar ladang rezeki, tapi juga ruang buat saling ngebantu. Pernah ada yang kehabisan uang, dikasih pinjaman sayur. Pernah ada yang jatuh pingsan, langsung digotong bareng-bareng ke musala terdekat. Di sini, rasa saling jaga masih kuat.

“Pasar ini bukan cuma dagang, tapi tempat ngelatih rasa. Rasa punya, rasa sayang, rasa peduli.”

Menjelang jam sepuluh, satu per satu lapak digulung. Tikar dilipat, gerobak didorong balik, dan jalanan kembali kosong. Tapi jejak suasana nggak langsung hilang. Bau sambel masih nempel di udara, suara tawa masih nyisa di kuping, dan hati warga yang pulang bawa lebih dari sekadar kantong belanja.

Di kampung Kalibata, pasar Jumat bukan cuma soal jual beli. Tapi juga tempat buat inget, bahwa hidup di Jakarta nggak harus selalu buru-buru. Kadang, cukup pelan-pelan nyusurin lorong pasar, nyengir waktu liat harga cabai, dan mampir sebentar buat sruput teh panas bareng tetangga. Karena sesungguhnya, itulah rasa kampung yang bikin Jakarta tetap manusiawi.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *