Ilustrasi tradisional Betawi, seorang laki-laki menyiapkan mandi uap dengan rebusan rempah, wanita duduk diselimuti kain sarung, suasana gang kampung Setiabudi dengan latar gedung tinggi Jakarta

Mandi Uap di Tengah Kota: Tradisi Kampung Betawi yang Masih Ngebul di Setiabudi

Di gang kecil Setiabudi yang mepet sama gedung-gedung jangkung, masih ada satu sudut kampung yang pagi harinya selalu diselimuti uap wangi. Bukan dari pabrik kopi atau dapur restoran, tapi dari dapur kayu punya Bang Arip, warga Betawi yang masih setia jaga tradisi lama: mandi uap daun.

Mandi uap ini bukan sekadar rutinitas, tapi udah kayak upacara kecil yang dijaga turun-temurun. Warga kampung nyebutnya “ngasapin badan”. Biasanya dimulai habis subuh, saat kabut belum sepenuhnya naik, dan ayam kampung baru nyaring-nyaringnya berkokok.

Bang Arip yang udah sepuh, tiap pagi selalu nyiapin tungku batu di belakang rumah. Daun-daun yang dipakai juga nggak sembarangan: daun sirih, daun jeruk, daun salam, dan sereh yang dicampur air rebusan jahe serta akar-akaran lain. Wangi rempahnya langsung nyelekit begitu tutup panci dibuka.

“Ini warisan dari emak gue, dulu tiap abis capek nanem singkong, pasti disuruh ngasap badan. Biar nggak masuk angin, badan enakan, hati juga lega,” kata Bang Arip sambil ngipasin api pakai tampah kecil.

Tradisi mandi uap Betawi yang belum padam di kota

Di tengah arus modern yang bikin banyak hal berubah, tradisi mandi uap Betawi ini kayak oase kecil yang masih bertahan. Beberapa warga muda emang sempet malu, takut dibilang kuno. Tapi begitu nyoba sekali, pada ketagihan.

Anak-anak muda, termasuk Bang Rano yang sehari-hari kerja di perkantoran Kuningan, rutin ikut sesi uap tiap Sabtu.

“Daripada ke spa mahal, ini lebih enak. Rebusan alami, habis itu badan enteng, kepala juga plong,” ujar Bang Rano sambil ketawa.

Proses mandinya pakai bilik bambu yang ditutup rapat sama sarung. Orangnya duduk jongkok, uap rebusan dipindahin ke baskom, lalu dialirin ke bawah. Keringet bercucuran, kayak abis olahraga. Tapi yang keluar bukan cuma keringet, melainkan juga beban pikiran.

“Kadang sambil mandi uap, kita ngobrol. Cerita, curhat, ketawa. Udah kayak terapi kampung,” kata Mpok Ine, tetangga Bang Arip.

Tradisi ini juga sering dimanfaatkan buat perawatan ibu habis lahiran. Menurut orang Betawi, mandi uap bisa bantu pemulihan, ngelancarin peredaran darah, sekaligus mencegah “angin duduk” yang sering ditakutin orang tua zaman dulu.

“Nenek gue dulu bilang, badan perempuan abis lahiran itu harus dibungkus uap, biar nggak rembes kesehatannya ke masa tua,” jelas Mpok Ine sambil bantuin masang bilik bambu.

Antara rebusan rempah dan rebusan kenangan

Setiap pagi uap rebusan Bang Arip ngebul, bukan cuma aroma sereh yang ke mana-mana, tapi juga aroma masa lalu. Orang-orang yang mampir bukan cuma cari sehat, tapi juga cari tenang. Ada yang cerita soal kerjaan, soal anak, soal mantan.

Di satu pagi Minggu, Bang Arip sempet dengerin cerita Bang Guntur yang baru aja diberhentiin dari proyek. Dengan mata sayu dan sarung basah keringet, Bang Guntur nyeletuk,

“Uapnya masuk ke badan, tapi kata-kata lo, Bang, yang bikin gue kuat lagi.”

Mandi uap jadi lebih dari sekadar kebiasaan. Dia tumbuh jadi ruang bersama. Tempat orang kampung saling dengerin, bukan sekadar ngeresepin rempah ke kulit, tapi juga nyari rempah buat hati yang perih.

Yang bikin hangat bukan cuma uapnya, tapi juga interaksi antar warga. Kadang Bang Arip nyelipin cerita masa kecilnya. Tentang dulu waktu mandi uap masih jadi bagian dari upacara sebelum sunatan, atau malam-malam sebelum acara besar kampung.

“Dulu, sebelum ngangkat besan, anak laki kudu ngasap badan dulu. Biar seger, biar tampan katanya,” ucap Bang Arip sambil senyum nyungging.

Pelestarian budaya Betawi lewat rutinitas kampung

Di era di mana orang sibuk ngincer konten dan like, keberadaan mandi uap di Setiabudi ini justru jadi bentuk nyata pelestarian budaya yang organik. Nggak perlu panggung, nggak harus viral. Cukup uap, daun, dan kebersamaan.

Beberapa mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta bahkan pernah datang untuk bikin dokumenter kecil tentang praktik ini. Mereka kaget saat tahu ada budaya Betawi yang masih “hidup” di jantung ibu kota.

“Ini bukti kalau budaya nggak mati, asal ada yang ngerawat. Kadang bentuknya nggak megah, tapi justru kuat karena nyambung ke hati warga,” ujar Anya, salah satu mahasiswa.

Soto Betawi Bang Benz, yang letaknya nggak jauh dari lokasi itu, kadang jadi tempat singgah setelah sesi mandi uap. Kuah santannya jadi pelengkap setelah badan diguyur uap hangat. Nggak sedikit warga yang mampir ke warung itu sambil ngobrol ngalor-ngidul soal hidup dan harapan.

“Abis uap, lanjut soto. Komplit hidup, Bang,” kata Bang Rano.

Kalau mampir ke Blok S pagi-pagi, wangi uap dan wangi soto kadang ketemu di tengah jalan. Seolah dua budaya yang beda bentuk tapi sama rasa: menghangatkan.

Tradisi kecil ini jadi pengingat bahwa budaya Betawi bukan sekadar baju pangsi atau ondel-ondel. Tapi juga hal-hal sederhana yang dirawat terus meski zaman berubah.

Dan selama masih ada yang duduk jongkok di bilik bambu, sambil mandi uap dan ngobrolin hidup, selama itu pula budaya Betawi nggak akan pernah kehilangan napas.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *